Rabu, 22 Mei 2013

Kongres Pecundang


Karya:
Fadri Irman

TEATER OMBAK

TIM PRODUKSI

Pelindung: Allah SWT
Penasihat Produksi: Nana Juhyana, M.Si. Barni, M.Pd.
Penanggungjawab: Drs. Hadi Nugraha, M.Pd ( Kepala SMAN 1 Wanasalam )

Pembina: Fadri Irman, S.Pd
Pimpinan Produksi: Haerudin
Sutradara: Fadri Irman, S.Pd
Astrada: Dadang Ombak
Aktor: 
Rezzhna Ombak
Haerudin
Mika Tineung
Siti Fauziah
Susi
Yusuf



 MUSIK BY
Ombak Senja


TEATER OMBAK MENGUCAPKAN TERIMAKASIH KEPADA :
Tuhan Yang Maha Esa, Tukang Sekolah, Tukang Nasi Uduk, Tukang Jaga Rental Komputer, Tukang Edit, Tukang Bensin, Tukang Bikin Acara, Tukang Sapu, Tukang Naskah, Tukang Mikir  Adegan, Tukang Mikir Musik, Tukang Bakwan, Tukang Kopi, Tukang Pulsa, Tukang Jaga Hotel,  dll

Sinopsis
KONGRES PECUNDANG
Karya: Fadri Irman

            Demonstrasi di mana-mana, karena situasi politik yang mecekam lantaran ada ketidak seimbangan antara janji yang selama ini dijual kepada rakyat. Banyak yang memanfaatkan situiasi dan membentuk kelompok untuk memimpin negeri. Di sisi lain  Dara sedang meratapi nasib anaknya yang sedang sakit. Mencari suaminya tak kunjung tiba. Ketika menunggu disebuah gedung bertemulah dengan Bambang yang sedang banyak beban. Ketika Bambang tahu anak Dara sakit lalu segeralah ia mengeluarkan uang dan menyuruh Dara segera membawa anaknya berobat. Setelah menermia uang Dara pun pergi meninggalka gedung itu.
            Setelah Dara Pergi masuklah beberapa teman Bambang penuh dengan keceriaan dan pemikiran yang matang untuk perubahan di negeri ini. Darsih ingin meyakinkan Bambang dan mengajaknya bergabung untuk melakukan perubahan.  Dengan tekad yang bulat mereka mengatakan dengan kongres ini kita mesti menjadi yang terdepan.
            Ketika mereka asik berdiskusi dan yakin bahwa merekalah yang akan memulai perubahan, tiba-tiba Agus tertawa dan mencemoohkan mereka? Entah ada apa dengan Agus? Dan siapakah agus itu sebenarnya?.


 Wanasalam, 8 April 2012











KONGRES PECUNDANG
Karya: Fadri Irman

 Dara
Darsih
Bambang
Yanto
Agus
Yeni

Pentas  menggambarkan ruangan yang agak kumuh.
Demonstrasi terdengar di mana-mana. Dara mencari suaminya yang biasa mengurusi ruangan tersebut. Suaminya tak kunjung diketemukan  dan  Dara meratapi nasib anaknya yang sedang sakit.  Dara merasa gelisah takut terjadi sesuatu pada suaminnya dan anaknya yang sedang sakit.


Dara               : “Kang, di mana kau Kang. (bersenandung sambil menggedong anaknya,Ketika cut dara bersenandung masuklah Bambang dengan wajah lusuh).
Dara               : “Pak kau lihat suamiku”
Bambang       : “Tidak”.
Dara               : “ke mana dia ya?”
Bambang      : “Memangnya ada apa?”
Dara               : “Ini Pak si Dora sakit.
Bambang      : (Menyentuh kening Dora) “wah panasnya tinggi sekali, sudah kau bawa ke dokter?”
Dara               : (Panik) “belum Pak”
Bambang      : (mengeluarkan uang dari sakunya lalu diberikan pada Cut Dara) sudah segera bawa anakmu ke dokter”.
Dara               : (langsung saja mengambil tanpa basa-basi) “maksih ya Pak.… makasih, Pak kalau bertemu suamiku, suruh  pulang ya” (pergi meninggalkan ruangan)

Bambang      : “ia ia… lekas bawa anakmu. Bagaimana si Agus ini anaknya sakit ko dia malah gak ada, bapak macam apa dia itu, tidak mencerminkan seorang bapak, apa dia tidak tau kalau anak itu cerminan dari dirinya bangsa dan negara ini”.
                        “Lihatlah bendera ini, walaupun di tengah dia tetap berkibar, dan lihat lukisan itu, menjadi saksi bisu betapa bangganya anak negeri terhadap sangsaka merah putih, hingga di tengah samudera mereka kibarkan, tapi sekarang rasa nasionalis terhadap bendera sudah dikalahkan oleh uang, banyak para pejabat lebih memilih jadi pecundang daripada menghargai bendera yang kita rebut tidak semudah membalikan telapak tangan”

Masuklah teman Bambang sambil tertawa riang dan berkata
 “ waktunya kita adakan perubahan dan inilah saatnya kita adakan kongres”.
 Tetapi Bambang tak memperdulikannya dan temannya melihat ke arah Bambang penuh ke heranan.

Darsih            : (tertawa) “Sudahlah Bung jangan terlalu dipikirkan, memang beginilah keadaannya. Kalau kita tak sepaham atau tak masuk kelompok, maka inilah akibatnya.
Bambang      : “Aku tak habis pilkir. Maunya apa sebenarnya mereka itu!
Darsih            : “Mereka tak suka itu, kau  terlalu idealis, apalah arti sebuah idealis kalau hanya menyengsarakan diri. Idealis saat ini tidak diperlukan!” (meratap) “Kau lihat teman seangkatanmu sekarang sudah menjadi pejabat pemerintahan, tapi Kau malah di bawah terus. Untuk itu kau ku ajak kemari.”
Bambang      : “Aku dari kecil sudah didik tentang kebenaran dan kejujuran. Sebab dengan kita memegang kebenaran dan kejujuran kita tidak akan pernah merasa dihantui dengan yang namanya kesengsaraan iman”
Darsih            : “Ah! Kau selalu egois!  Sudahlah lupakan itu, terima saja tawaran temanmu itu! Dengan menerima tawarannya Kau tak akan mungkin sengsara seperti ini dan penyakitmu bisa diobati”.
Bambang      : “Darsih! Lebih baik aku sakit seperti ini, daripada aku seperti mereka yang sehat, tapi pikirannya sakit. Secara fisik aku sakit, tetapi secara nurani aku tetap sehat. Secara fisik aku sengsara, tapi secara iman aku kaya” (merasa gelisah).
Yanto             : “Kesengsaraan sebenarnya,  lantaran adanya kerakusan. Kerakusan yang dilakukan oleh para penjilat yang tak mempunyai hati. Para bandit yang sok intelektual, padahal otaknya kosong. Ya,  hanya dengan rumus seperti pedagang kaki lima saja mereka bisa dipercaya oleh orang dungu!, sebenarnya akulah yang cocok mempimpin negeri ini! Hahahhahaah”
Darsih            : “Maksudmu?”
Yanto             : “Rumus menjadi seorang  politisi, pejabat, penguasa atau yang berbau kedudukan, rumusnya cukup dengan  kedekatan dan pandai bersilat lidah saja itu sudah cukup. Masalah  intelektual, Ijazah atau gelar dan iman itu urusan belakangan. Dengan orang-orang seperti itulah negeri ini akan hancur. Makanya mesti ada perubahan. Untuk itu kita berkumpul di sini untuk melakukan perubahan, bukan menerima tawaran dan masuk kelompok para penjilat, tapi kita membentuk kelompok”!
Yeni               : “Sebenarnya yang merayau dan yang dirayu sama-sama tololnya! Ketika kita memilih calon berarti kita sudah siap disenangkan dan dihancurkan oleh calon itu. Kita tak usah saling menuduh seperti itu. Yang mesti kita lakukan adalah bagaimana kita menyadarkan mereka yang akan memilih. Mereka kita beri pemahaman, pemahaman yang pantas menjadi pejabat di negeri ini!  Kitalah yang akan melakukan perubahan! Sistem di negeri ini harus kita rombak secara total. Kalau dipikir-pikir yang lebih pantas menjalankan pemerintahan di negeri ini sepertinya akulah yang cocok!”.
Darsih            : “kita memang pemikir yang handal, kita yang ada disinilah yang cocok menggantikan para penguasa negeri ini, mari kita adakan perubahan (tertawa) kitalah yang akan memajukan negeri ini, sebab kita pernah membuktikannya dari berbaga macam pemikiran yang pernah diterapkan di negeri ini, walaupun oranglain yang punya nama.”
Yanto             : dengan tekad yang bulat mari kita raih masa depan dengan pemikiran kita yang handal ( mengepalkan tangan dan diikuti dengan yang lainnya)
Darsih,  Yanto dan Yeni ikut mengepalkan  dan berkata “mesti ada perubahan”
Dengan nada emosi agus ikut terlibat denagan mereka
Agus              : “Apa! Kalianlah yang akan menghancurkan negeri ini, kalian tidak ingat apa yang pernah kalian lakukan!”
Darsih `          : “(marah) Apa maksudmu!”
Agus              : “Kau akan mengadakan perubahan, itu sangatlah lucu! Rumah tanggamu hancur, lantaran kau berselingkuh, bagaimana kau akan memimpin negeri ini. Hahahhahaha. Dan kau Bung (ke arah Bambang) kau sakit lantaran kau bimbang menghadapi hidup. Kau Yanto yang penah membantu lurah memaksa rakyat menjual tanah pertaniannya. Bagaimana kau akan dipercaya!”.
Yanto             : “Kurang ajar! Siapa kau sebenarnya!”
Agus              : “Aku! (tertawa) aku adalah yang selau mengikuti perkembangan negeri ini. Aku tau segalanya. Aku  sudah ada semenjak proklamasi di kumandangkan oleh Sukarno hahahhahha. Aku tau siapa saja yang menjadi penjliat. Kau yang selalu negaku-ngaku kalau urusan dengan keberhasian, tapi kau selalu tak bertanggung jawab kalau ada kekisruhan. Gara gara kalian pula banyak perpecahan antar warga, kau yang selalu memprovokasi anak negeri”.
Tiba-tiba darsih berteriak kesakitan dan diikuti oleh Yanto
Bambang      : “Apa yang sudah kau lakukan pada temanku!
Agus              : “aku sudah menyalamatkan namanya dengan cara kurancuni minuman kalian semua Hahahahhahahahhahha, kecuali kau! Aku malas meracunimu, karena kau adalah orang  yang terkorbankan. Mereka semua adalah pecundang yang pandai beretorika. Dia pandai berdalih, dan pantas mati dengan  cara seperti ini.
Bambang      : “(batuk) kenapa kau harus berbuat seperti ini, memang tidak ada cara lain?”
Agus              : “Dengan cara seperti inilah mereka yang pantas ketimbang masuk pengadilan yang tak jelas aturan mainannya, sebenarnya banyak yang menyalahkan sistem dinegeri ini, padahal bukan sitem yang salah tapi orang yang menjalankan sistem inilah yang tak benar. Pemikiran mereka yang selalu mengotori semua orang. Hai Bung kau beruntung tidak pernah terliat dengan pemikiran mereka dan kau tak bisa diracuni oleh otak kotor mereka.
Yanto             : (penuh kesakitan) “Aaaaaaaakkkkkkkkkkkhhh! Kurang ajar!” (mati)”
Yeni               : (kesakitan) “kenapa kau lakukan ini… kenapa kenapa!”.
Agus              : “Diam kau pelacur! Kau berkedok pemikir tapi kau yang selalu mengirim anak gadis ke tempat-tempat hiburan malam, dari mana kekayaan yang selama ini kau peroleh hah! Dasar lonte”.
Yeni               : (merasa kesakitan dan berusaha mencari pertolongan)
Agus              : “Apa pun yang dilakukan seseorang, selama itu disambut baik oleh orang lain atau masyarakat, maka dengan cepat ia akan mengakui bahwa itu adalah perbuatannya. Tetapi begitu timbul kritik, apalagi banyak kritik, maka dengan mudahnya manusia Indonesia hari ini akan berkata, "Bukan saya, bukan saya, itu bukan saya.” Itulah mereka . hanya kau Bung yang selalu tetap pada pendirian walaupun penuh dengan kebimbangan, tapi tak pernah terlibat. Sekali kau terlibat berarti mati!”
                          Negeri ini butuh orang sepertimu, yang meiliki idealisme yang tingggi demi kepentingan bersama. Mari kita tinggalkan gedung ini” (mengajak Bambang keluar gedung).
Ketika Agus hendak keluar dengan Bambang terdengarlah suara teriakan dari luar yang meminta tolong.
Dara               : “Tolong toloooooooong toloooong…. Kang… Kang…  toloooooooong akang.. akang toloong” ( Berteriak mencari suaminya dan memasuki ruangan).
Agus              : “Ada apa dara? Ada apa!” (panik)
Dara               : (menangis) “Kang…  anakmu Kang anakmu”
Agus              : “ia ada apa dengan anakku!”
Dara               : “dia meninggal Kang”
Agus              : (kaget dan segera keluar  sambil berteriak dan disusul oleh Cut dara) “Dora…. Dora… dora…… kenapa dia bias meninggal… kenapa!” (menangis)
Dara               : “Ia sakit kang…. Sakit kang…)
Agus              : “Di mana Dora sekarang… di mana dimana!
Dara               : “Di rumah Kang… di rumah!”
Agus berlari keluar dan dikejar oleh  Dara berlari

Bambang      : (panik dan merasa bersalah karena lupa menyuruh Agus pulang) “ternyata aku terjebak di gedung pecundang yang pandai beretorika, dan ternyata aku yang selama ini di bilang punya idealis yang tinggi tidak bedanya seperti pecundang, aku lupa, lupa tak menyusuruh pulang si Agus. Apa bedanya aku dengan mereka. Dan inikah yang terjadi di negeri kita, dan apakah negeri kita akan terus seperti ini” (merasakan sakit, karena penyakitnya kambuh dan mencoba mencari obat, tetapi tak ketemu. Nafasnya mulai tersendat sendat dan akhirnya mati.)


TAMAT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar